Rabu, 28 September 2011

Mengatasi Inferioritas (Perasaan Minder

Pengertian

Menurut pemahaman umum, inferioritas itu adalah minder. Dalam kamus bahasaIndonesia, inferioritas itu diartikan dengan rasa rendah diri. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan-diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang, self-diminishment(Encyclopedia Britannica: 2006). Dalam literatur olahraga, orang disebut minder apabila orang itu tidak sanggup menunjukkan kebolehannya secara optimal karena tidak bisa mendamaikan konflik antara keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan keinginan untuk menghindari hinaan atau takut cercaan (Sports Science and Medicine: 2007)
Dalam prakteknya, ada keminderan yang sifatnya spesifik atau di bidang tertentu atau di wilayah hidup tertentu. Misalnya saja Anda merasa rendah-diri ketika menghadiri acara tertentu, perlombaan tertentu atau tes tertentu. Konon, Napoleon Bonaparte itu sangat minder ketika diminta untuk menjawab ujian lisan. Padahal, Napoleon adalah sosok pemberani di lapangan pertempuran. Banyak orang yang enak berbicara di situasi tertentu tetapi merasa minder ketika diminta berbicara di situasi yang berbeda. Ini contoh keminderan yang sifatnya spesifik.
Bagaimana dengan keminderan yang sifatnya general? Keminderan ini terjadi pada mental kita, berpengaruh ke seluruh aspek kehidupan dan termanifestasikan dalam berbagai hal (pikiran, perasaan, ucapan, sikap, keputusan, dan tindakan). Keminderan ini punya hubungan kausatif (sebab-akibat) dengan rendahnya self-esteem atau self-worth atau rendahnya kepercayaan-diri (self-efficacy). Kalau mengacu ke catatan Gilmer (1975), tanda-tanda inferioritas itu antara lain:
  • Punya reaksi yang berlebihan terhadap kritik
  • Punya kecenderungan untuk merasa dikritik
  • Menghindari orang lain
  • Punya respon positif terhadap bujukan, iming-iming yang tidak rasional, pujian atau sanjuangan yang sifatnya menjilat atau ”mencari mukaâ€
  • Kebaikan yang didasari kelemahan
  • Cenderung menjelek-jelekkan atau mengkritik (kritik destruktif) orang lain
Kalau melihat catatan Alfred Adler (Classical Adlerian Theory and Practice, Henry T. Stein, Ph.D., 1999), ada yang ia sebut dengan istilah primary dan secondary inferiority. Seperti apa keminderan primer dan sekunder itu? Keminderan primer adalah keminderan yang adanya terletak di wilayah kepribadian kita yang paling dalam (core personality). Biasanya ini terkait dengan nilai-nilai yang kita anut, atau motif. Keminderan primer sama seperti keminderan general.  
Sedangkan keminderan sekunder itu adalah bentuk keminderan yang letaknya berada di wilayah kepribadian yang di permukaan. Biasanya ini terkait dengan pengetahuan, keahlian, informasi, atau sikap. Misalnya saja kita minder berdampingan dengan orang yang lebih alim, lebih ekspet, lebih hebat, atau lebih banyak menguasai informasi. Keminderan sekunder ini biasanya lebih mudah diubah ketimbang keminderan primer. Umumnya, keminderan  primer itu adanya di alam Bawah Sadar kita. Sedangkan keminderan sekunder itu adanya di alam Sadar kita.
Hal lain lagi yang perlu kita ketahui juga terkait dengan keminderan ini adalah,  ada bentuk keminderan tertentu yang berasal dari opini kita tentang diri kita (perseptual). Keminderan perseptual itu misalnya kita punya penilaian  yang kurang atau penilaian yang negatif tentang diri sendiri. Banyak orang yang menilai dirinya tidak mampu padahal sebetulnya kemampuan itu dimiliki. Ada juga keminderan faktual, misalnya terkait dengan kecacatan fisik, kelas ekonomi, status sosial, dan seterusnya.
Bahkan kalau melihat literatur psikologi, di sana ada yang disebut keminderan personal dan keminderan sosial. Keminderan sosial adalah berbagai bentuk keminderan yang dialami oleh masyarkat atau bangsa tertentu. Kita sering mendengar bahwa bangsa kita ini termasuk  bangsa yang minder (secara mental dan kultural) dibanding dengan bangsa lain yang sudah maju. Keminderan sosial ini tidak saja menghinggapi para TKI non-skilled saja. 
Di tahun 2007 lalu, saya kebetulan berkesempatan mewancarai ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Pak Sandiaga Uno. Katanya, di Asia Tenggara saja kita menduduki ranking bawah dalam hal ketegasan pemuda (sarjana baru) untuk menjadi pengusaha. Kita lebih rendah dari Philipine dan Vietnam. Kenapa? Selain karena faktor eksternal, misalnya dukungan pemerintah atau lainnya, faktor mental juga ikut campur di sini. Sebagai bangsa, kita belum banyak berhasil mengalahkan keminderan untuk menjadi pengusaha. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar