Jumat, 30 September 2011

MEMANAGE KONFLIK UNTUK BEGERAK MAJU

Pak ireng …….Apa yang terjadi ? seandainya kita  mempertahankan dua gagasan yang saling bertentangan didalam pikiran ……?, yang satu mungkin sebuah gagasan yang menjelaskan keadaan kita saat ini , sementara yang lain adalah sebuah pikiran apa dan bagaimana sebenarnya yang   kita inginkan untuk saat ini dan dimasa mendatang?
Pertanyaan tersebut  baru2 ini diajukan oleh seorang teman kantor , yang memang perusahaan kami sedang menghadapi berbagai masalah .
Seorang psikolog yang bernama Leon Fortinger dalam sebuah buku yang pernah saya baca,  menyodorkan sebuah konsep yakni,  pertentangan kongnitif, untuk menggambarkan ituasi seperi ini. Teori  ini mengatakan bahwa “ sebenarnya jiwa kita tidak pernah menyukai pertentangan seperti ini , yang  pada akhirnya akan mengubah  salah satu gagasan itu sehingga menjadi sejalan dengan yang lain ” . Lalu..mana yang paling mungkin ? ……….yang perlu didahulukan  adalah masalah yang paling tidak menarik  yang diingini antara yang satu dengan yang lainnya , Fortinger menemukan bahwa keberadaan pertentangan ini juga akan mendorong kita untuk mencari orang lain yang seia- sekatayang mendukung gaghasan itu , bahwa gagasan itu kita pandang menarik untuk dapat  dipertahankan .
 “ ….tugas para pemimpin adalah memperjelas realitas terkini dan  mencari ruang untuk menciptakan harapan… Artikulasi ini secara terus menerus digerakkan dalam kontek yang baru sebagai aktifitas dan kegiatan  bisnis baru akan tercipta.
“ Jika anda tidak dapat mencapai posisi yang anda inginkan, maka ubahlah posisi anda sekarang, atau keadaan bisnis saat ini. Tindakan yang mendorong gerak maju akan dituntun oleh apa yang anda inginkan. " Tetapi tindakan itu akan bertujuan mengubah kondisi yang sekarang.
Teori pertentangn mengurai pada sebuah cara untuk bergerak kedepan. Akan tetapi , teori itu tidak menjadikan keniscayaan. Seperti diketahui biasanya para pengikut status quo, seringkali sangat anti dengan perubahan. Bagi beberapa orang status quo sangatlah menarik, sesuatu yang mereka anggap sangat perlu dipertahankan, namun bagi orang yang senang  perubahan, ..selalu mempersiapkan dirinya menghadapi tantangan untuk menciptakan pendekatan kreatif  menggoyang realitas saat ini dalam  menghadapi perubahan mendorong demi kemajuan. ( indahnya berbagi)

Kamis, 29 September 2011

Mengenali Diri dan Mengembangkan Kepribadian..!

Setiap manusia normal cenderung mengharapkan dirinya berkembang menjadi lebih baik lagi, apa pun profesinya.

W Stern mengemukakan Teori Konvergensi yang mengatakan kepribadian manusia terbentuk sebagai hasil interaksi dari nature dan nurture. Jadi, hasil interaksi dari potensi yang dimiliki manusia dan seberapa besar lingkungan mempengaruhi perwujudan potensi yang dimiliki. 

Kalau berbicara mengenai "potensi", kita tidak bisa berbuat banyak, karena potensi manusia memang sudah terberi. Yang dapat diupayakan adalah usaha untuk mengembangkan potensi yang ada agar berfungsi sesuai dengan peran yang harus kita jalankan.

Dalam
sebuah penelitian, menyatakan bahwa manusia memiliki empat daerah pengenalan diri yaitu:

1. Diri terbuka
2. Diri terlena
3. Diri tersembunyi
4. Diri yang tidak dikenal siapa pun.

Keempat hal di atas digambarkan sebagai berikut.

Bidang 1: Diri terbuka
Bagian diri yang disadari oleh diri sendiri dan ditampilkan kepada orang lain atas kemauan sendiri. Misalnya perasaan, pendapat dan pikiran yang dipilih untuk disampaikan kepada orang lain. Juga hal-hal yang tidak dapat ditutupi terhadap orang lain, seperti muka, bentuk badan, umur yang tampak pada keadaan badan (tua, muda).

Bidang 2: Diri terlena

Bagian diri yang tanpa disadari diri sendiri, tertutup terhadap dirinya, tetapi tersampaikan kepada orang lain atau diketahui oleh orang lain. Misalnya kebiasaan-kebiasaan, sifat-sifat, dan kemampuan tertentu yang tidak disadari ada pada diri sendiri, yang sering berpengaruh (positif atau negatif) dalam berhubungan dengan orang lain (misalnya sering membuat interupsi, kurang memperhatikan perasaan orang lain, senang membantah, membanggakan diri, dan sebagainya).

Bidang 3: Diri tersembunyi

Bagian diri yang disadari oleh diri sendiri, tetapi secara sadar ditutup-tutupi atau disembunyikan terhadap orang lain. Mungkin juga orang tidak tahu bagaimana menyampaikan dirinya kepada orang lain (misalnya tidak setuju tentang pendapat orang lain, tetapi tidak dapat menyampaikan hal itu), atau karena kalau disampaikan akan membuat malu diri sendiri, misalnya perasaan ketidakpastian, keinginan yang rahasia, dan sebagainya.

Bidang 4: Diri yang tak dikenal oleh diri sendiri dan oleh orang lain.

Bagian diri yang tidak dikenal diri sendiri dan orang lain ini berupa motif, kebutuhan yang tidak disadari, terlupakan atau didesak ke bawah sadar sehingga tidak dikenal lagi dan masih mempengaruhi tindakan orang dalam berhubungan dengan orang lain.

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN SEMANGAT HIDUP.

Sahabatku......hidup ini adalah sebuah hadiah perjalanan yang panjang atau pendek, berarti atau tidak berarti, berharga atau tidak berharga.....hanya andalah yang dapat memaknainya ....

Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok "

1. Tahu apa hakekat sebenarnya hidup ini.  


Banyak orang yang tidak tahu apa sebenarnya hakekat hidup ini. Jika Anda seorang muslim, pasti Anda pernah mendengar atau membaca firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Adz Dzariyaat ayat 56 yang artinya, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Mengabdi/beribadah di sini memiliki arti yang sangat luas. Bukan ibadah yang kaitannya dengan urusan akhirat saja, namun semua usaha dan kerja keras kita dalam hidup ini dapat difahami juga adalah ibadah. Selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut, itu pun bernilai ibadah. Kita berusaha membahagiakan dan mencukupi kebutuhan keluarga kita, itu juga ibadah. Yang penting dari awal sudah kita niatkan, apa pun usaha kita hanya untuk mencari keridhaan-Nya, dan kita pun harus seimbang dalam mengerjakan urusan dunia dan amalan akhirat. Jika kita menyadari hal ini, tentu kita akan memiliki semangat untuk mengerjakan semua pekerjaan dan urusan kita dengan cara yang terbaik. Satu hal yang penting dan tidak boleh dilupakan adalah niat, karena niat akan menentukan nilai amal/perbuatan kita.
2. Tahu cita-cita hidup kita yang tertinggi.
Semua orang memiliki impian atau cita-cita, namun hanya sedikit yang berani mengejar dan mewujudkannya menjadi sebuah realitas fisik. Banyak orang kehilangan semangat dalam hidupnya hanya karena mereka tidak tahu atau tidak mau tahu akan apa yang sebenarnya yang mereka mau. Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan. Kebanyakan orang hanya menjalankan hidup ini sebagai sebuah kegiatan yang bersifat rutinitas. Bangun pagi, berangkat kerja, sore hari pulang kerja, malam tidur begitu seterusmua. Dengan sedikit kenyamanan yang mereka rasakan maka berhenti sampai di situlah impiannya. Mereka takut membuat sedikit perbedaan karena khawatir kenyamanan itu akan hilang.
Semua orang pasti memiliki potensi yang luar biasa; dan keluarbiasaan itu baru akan tergali secara maksimal jika kita sudah bisa keluar dari penjara mental kita. Jika kita sudah menemukan profesi yang paling tepat dengan panggilan jiwa kita maka kita akan lebih mudah mengaktualisasikan potensi diri kita yang sebenarnya. Dengan itu kita mendedikasikan hidup untuk kehidupan ini; mempersembahkan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk peradaban manusia yang sedang kita jalani saat ini.
3. Bersyukur terhadap apa yang sekarang kita miliki dengan tulus.
Setiap orang mempunyai titik kepuasan sendiri-sendiri. Anda orang yang jika mempunyai rumah satu sudah puas, namun ada juga yang sudah memiliki rumah, hotel, vila atau real estate di berbagai penjuru kota masih belum puas. Ada orang yang punya tabungan 1 juta rupiah sudah merasa kaya, namun ada juga orang yang sudah punya tabungan, deposito, saham atau asset investasi lainnya masih merasa kurang. Pada umumnya untuk urusan harta benda duniawi orang selalu ingin lebih banyak lagi dan lagi. Jika diukur maka tidak ada batasnya. Kabar buruknya adalah hanya sedikit saja dari mereka yang terpenuhi keinginannya.
4. Yakin bahwa apa pun yang kita lakukan akan mendapat balasan, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Setiap perbuatan kita pasti akan ada efeknya. Kita tersenyum kepada orang lain maka orang lain pun akan tersenyum kepada kita. Kita tidak sengaja menginjak kaki orang, mungkin bisa saja orang itu akan marah. Kita memberi sedekah (100 ribu misalnya) pada seorang pengemis, pasti si pengemis akan gembira luar biasa seakan itu sebuah mimpi, dan untaian kalimat doa pun keluar dari mulutnya untuk kebaikan kita. Kita marah, orang di sekitar kita pasti menjauh. Di tempat ramai tiba-tiba kita tertawa sendiri tanpa sebab yang masuk akal, mungkin kita akan disangka gila. Jadi, semua perbuatan (aksi) yang kita lakukan akan menimbulkan efek atau reaksi. Dan efek atau reaksi yang muncul sesuai dengan hukum tabur-tuai. Seperti jika kita menanam padi, bisa dipastikan yang akan tumbuh juga padi. Namun jika kita menanam rumput maka yang akan tumbuh juga rumput. Kalau kita mengharap padi yang akan tumbuh maka kita harus segera bangun dari mimpi buruk. (indahnya berbagi )

Rabu, 28 September 2011

Membangun Optimisme


Didalam suatu diskusi ada seorang teman bertanya bagaimana sih, membangun optimisme yang tinggi ?....sejujurnya sy sendiri sangat sulit untuk menjawabnya, namun kalo kita mau mencermatinya sebagai contoh ! ada seorang teman saya yang sy anggap selalu punya semangat dan dengan tingkat optimis yang tinggi , maka inilah jawabannya saya ? :

 :…….dalam kehidupan sehari-hari sering sekali kita menemui orang-orang yang memiliki optimisme begitu tinggi  untuk meraih suatu prestasi tertentu dan cenderung menganggap enteng segala tantangan yang mungkin menghadang. Namun demikian, dibalik sikap optimisme tersebut tidak jarang kita juga menemukan bahwa orang tersebut cenderung tidak memiliki dasar atau landasan kuat untuk mendukung optimismenya yang terefleksi dalam bentuk minimnya persiapan dan rencana, ketekunan, keras keras, kemampuan yang dimiliki, dst. Akibatnya ia tidak pernah berhasil mencapai prestasi yang tadinya sangat diyakini akan dapat dicapai.  Bahkan banyak yang berakhir dengan kekecewaan dan frustrasi mendalam. 

Jika menilik kondisi diatas maka pasti akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kita. Apakah salah jika seseorang memiliki optimisme yang tinggi? Jika orang tersebut telah memiliki optimisme, lalu hal-hal apa saja yang bisa menghambatnya sehingga gagal mewujudkan cita-cita atau impiannya? Hal-hal inilah yang akan dicoba untuk dibahas dalam artikel ini.   

Membumi


Selamanya anda tidak bisa melepaskan diri dari keterikatan waktu. Masa lalu telah menjadi sejarah. Ia memberi banyak pelajaran tentang suatu hal yang membedakan tetapi jangan sampai anda hidup di dalamnya dan terlilit belenggunya. Sementara masa depan masih  berupa wilayah yang penuh misteri dan keajaiban. Masa lalu adalah peta tentang dari mana anda dan masa depan merupakan wilayah tentang kemana anda. Maka tugas anda adalah menggoreskan pena imajinasi tentang masa depan di atas kertas sejarah masa lalu. 
Optimisme akan masa depan tidak dibangun di atas harapan utopis atau impian kosong karena harapan dan impian seperti itu bersifat gratis dan bisa dimiliki oleh semua orang dalam jumlah sebanyak mungkin. Kalau sekedar bicara harapan dan impian, tentu semua orang ingin makmur, hidup enak, berfoya-foya, terhormat dan digolongkan ahli surga. Namun dalam kenyataan berapa persen yang bisa mewujudkan impian tersebut? Anda pasti tahu jawabannya.  

Masa depan harus dibangun dengan optimisme alamiah yang membumi dan hanya bisa dijawab oleh kualitas pribadi anda untuk menggunakan masa sekarang ini. Bagaimana cara anda mengisi hari-hari anda di masa sekarang sebenarnya itulah sketsa paling reliable untuk memahami masa depan anda.( indahnya berbagi)

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
(QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Kata ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah (fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu al masdar dari kata ini. Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama, hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya. Seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.
Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.
Hidayah hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda. Maka untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar lingkungan kita normal alamiah.
Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Allah SWT berfirman:
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 2).
Yang dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.
Ayat ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.
Namun Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah selanjutnya.
Keempat, hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :
”…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Maka apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini.
Seperti Allah SWT tegaskan dalam Alqur’an:
”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79).
Semua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.
Kelima, hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :
”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69).
Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.
Penutup
Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya.
Wallahu a’lam.

Mengatasi Inferioritas (Perasaan Minder

Pengertian

Menurut pemahaman umum, inferioritas itu adalah minder. Dalam kamus bahasaIndonesia, inferioritas itu diartikan dengan rasa rendah diri. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan-diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang, self-diminishment(Encyclopedia Britannica: 2006). Dalam literatur olahraga, orang disebut minder apabila orang itu tidak sanggup menunjukkan kebolehannya secara optimal karena tidak bisa mendamaikan konflik antara keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan keinginan untuk menghindari hinaan atau takut cercaan (Sports Science and Medicine: 2007)
Dalam prakteknya, ada keminderan yang sifatnya spesifik atau di bidang tertentu atau di wilayah hidup tertentu. Misalnya saja Anda merasa rendah-diri ketika menghadiri acara tertentu, perlombaan tertentu atau tes tertentu. Konon, Napoleon Bonaparte itu sangat minder ketika diminta untuk menjawab ujian lisan. Padahal, Napoleon adalah sosok pemberani di lapangan pertempuran. Banyak orang yang enak berbicara di situasi tertentu tetapi merasa minder ketika diminta berbicara di situasi yang berbeda. Ini contoh keminderan yang sifatnya spesifik.
Bagaimana dengan keminderan yang sifatnya general? Keminderan ini terjadi pada mental kita, berpengaruh ke seluruh aspek kehidupan dan termanifestasikan dalam berbagai hal (pikiran, perasaan, ucapan, sikap, keputusan, dan tindakan). Keminderan ini punya hubungan kausatif (sebab-akibat) dengan rendahnya self-esteem atau self-worth atau rendahnya kepercayaan-diri (self-efficacy). Kalau mengacu ke catatan Gilmer (1975), tanda-tanda inferioritas itu antara lain:
  • Punya reaksi yang berlebihan terhadap kritik
  • Punya kecenderungan untuk merasa dikritik
  • Menghindari orang lain
  • Punya respon positif terhadap bujukan, iming-iming yang tidak rasional, pujian atau sanjuangan yang sifatnya menjilat atau ”mencari mukaâ€
  • Kebaikan yang didasari kelemahan
  • Cenderung menjelek-jelekkan atau mengkritik (kritik destruktif) orang lain
Kalau melihat catatan Alfred Adler (Classical Adlerian Theory and Practice, Henry T. Stein, Ph.D., 1999), ada yang ia sebut dengan istilah primary dan secondary inferiority. Seperti apa keminderan primer dan sekunder itu? Keminderan primer adalah keminderan yang adanya terletak di wilayah kepribadian kita yang paling dalam (core personality). Biasanya ini terkait dengan nilai-nilai yang kita anut, atau motif. Keminderan primer sama seperti keminderan general.  
Sedangkan keminderan sekunder itu adalah bentuk keminderan yang letaknya berada di wilayah kepribadian yang di permukaan. Biasanya ini terkait dengan pengetahuan, keahlian, informasi, atau sikap. Misalnya saja kita minder berdampingan dengan orang yang lebih alim, lebih ekspet, lebih hebat, atau lebih banyak menguasai informasi. Keminderan sekunder ini biasanya lebih mudah diubah ketimbang keminderan primer. Umumnya, keminderan  primer itu adanya di alam Bawah Sadar kita. Sedangkan keminderan sekunder itu adanya di alam Sadar kita.
Hal lain lagi yang perlu kita ketahui juga terkait dengan keminderan ini adalah,  ada bentuk keminderan tertentu yang berasal dari opini kita tentang diri kita (perseptual). Keminderan perseptual itu misalnya kita punya penilaian  yang kurang atau penilaian yang negatif tentang diri sendiri. Banyak orang yang menilai dirinya tidak mampu padahal sebetulnya kemampuan itu dimiliki. Ada juga keminderan faktual, misalnya terkait dengan kecacatan fisik, kelas ekonomi, status sosial, dan seterusnya.
Bahkan kalau melihat literatur psikologi, di sana ada yang disebut keminderan personal dan keminderan sosial. Keminderan sosial adalah berbagai bentuk keminderan yang dialami oleh masyarkat atau bangsa tertentu. Kita sering mendengar bahwa bangsa kita ini termasuk  bangsa yang minder (secara mental dan kultural) dibanding dengan bangsa lain yang sudah maju. Keminderan sosial ini tidak saja menghinggapi para TKI non-skilled saja. 
Di tahun 2007 lalu, saya kebetulan berkesempatan mewancarai ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Pak Sandiaga Uno. Katanya, di Asia Tenggara saja kita menduduki ranking bawah dalam hal ketegasan pemuda (sarjana baru) untuk menjadi pengusaha. Kita lebih rendah dari Philipine dan Vietnam. Kenapa? Selain karena faktor eksternal, misalnya dukungan pemerintah atau lainnya, faktor mental juga ikut campur di sini. Sebagai bangsa, kita belum banyak berhasil mengalahkan keminderan untuk menjadi pengusaha. 

KEYAKINAN DAN OPTIMIS


Apa perbedaan antara orang yang berhasil dengan orang yang tidak berhasil ? apakah mereka hidup didunia yang berbeda ? apakah mereka mempunyai waktu yang berbeda ? atau apakah mereka mengkomsumsi makanan yang berbeda ?
Perbedaan yang sungguhnya adalah bukan terletak pada dunia mereka yang berbeda. Tetapi sesungguhnya terletak bagimana sudut pandang mereka terhadap dunia itu sendiri. Dengan tingkat  kepercayaan diri yang tinggi akan membentuk sudut pandang terhadap kenyataan hidup manusia didunia yang  mengelilingi merka. Orang yang mempunyai kepercaaan diri yang tinggi, aka mengambil dan melihat  segala hikmah dari sekeliling mereka sendiri, baik dilingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan  Negara.
Sebaliknya orang yang mempunyai kepercayaan diri yang rendah, meraka akan slalu selalu melihat kegagalan dari orang lain, akan menjadi momok bagi mereka, sehngga ia pun semakin takut untuk memulai sesuatu. Coba simak puisi yang ditulis oleh Steven Covey, yang pernah saya baca dan coba sy kutip dibawah ini :

“ Ketika aku masih kecil dan bebas menggunakan imajinasiku yang tidak ada batasnya.
Aku memimpikam untuk mengubah dunia……..
Ketika aku semakin besar, dan semakin bijaksana, aku sadar bahwa dunia yang besar ini tak mungkin kuubah…….
Maka   aku putuskan untuk mengurangi impianku sedikit,  dengan keinginan merubah negaraku.
Tetapi ketka kusadari bahwa itupun tak mungkin.
Ketika ku memasuki usiaku semakin senja,baru kusadari dalam upayaku, aku ingin merubah keluargaku, namun itupun sepertinya sering mendapatkan tantangan.
Dan kini ketika menjelang ajalku, kusadari, bahwa seharusnya aku dulu merubah diriku sendiri dahulu, lalu dengan teladanku mungkin aku bisa mempengaruhi keluargaku, dan dengan dorongan serta dukungan keluargaku mungkin akan membuat masyarakat sekitarku menjad lebih baik, berikutnya  masyarakatku sekitarku akan  menjadi lebih baik, dan akhirnya dapat  pula merubah negaraku menjadi lebih baik lagi dan pada  akhirnya ..siapa tau dengan demikian akan mempengaruhi dunia  akan jauh lebih aman damai “


Sahabatku…..“ Keyakinan mrupakan mata hati kita, Sekuat keyakinan yang kita miliki, seterang itulah penglihatan kita “….(indahnya berbagi)

Selasa, 27 September 2011

woireng: ORANG KAYA PASTI PINTAR ATAUKAH ORANG PINTAR PASTI KAYA

woireng: ORANG KAYA PASTI PINTAR ATAUKAH ORANG PINTAR PASTI KAYA

ORANG KAYA PASTI PINTAR ATAUKAH ORANG PINTAR PASTI KAYA

Ada seorang sahabatku ....yang bilang orang pintar itu belum tentu kaya , namun kalau orang kaya  itu pasti dia orang “pintar”..apa bener ??? katanya ???…apakah anda setuju dengan pendapat diatas ?
jadfi begini ...Orang ..bisa disebut kaya ? …. karena ia sudah dapat berhasil mendapatkan bayaran atau imbalan atas jasanya memenuhi kebutuhan orang lain , apapun  yang namanya kebutuhan itu baik pada barang maupun jasa . Artinya , orang tersebut telah menggunakan akal dan pikirannya dengan cara yang efektif dengan segala kemampuannya  dan kompetensinya untuk mencari, menemukan serta memenuhuhi ..kebutuhan-kebutuhan orang lain.???? ..berati orang ini  bisa disebut “pintar” bukan ? ….tentu hal tersebut sangat membutuhkan pemikiran yang dalam  upayanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain,,hal inilah maka sudah sewajarnyalah ia mendapatkan imbalan atau bayaran atas hasil jerih payahnya.  Memang dibutuhkan kemauan dan kemampuan yang keras untuk itu. Oleh karena tak akan mungkin orang akan membayar kita kalo kita tidak secara efektif  menggunakan akal dan pikiran kita.
Sebaliknya orang yang “pintar”dalam pengertian kognitif..apabila ia tidak mempunyai sensitivitas yang tinggi untuk duduk diam dan menggunakan intelektualnya, dalam memikirkan kebutuhan orang lain, maka ia tidak akan mendapatkan apa2 dan tentu ini sebuah pilihan yang mempunyai efek hasil secara financial  Jadi jelas untuk itu tidak ada satu orangpun  yang merasa bahwa ia telah dapat memenuhi kebutuhannya. Maka mereka tidak akan bersedia mengeluarkan biaya untuk itu. Orang lain tidak akan peduli, seperti sejauh mana kita bisa peduli kepada orang lain. Peduli adalah sebuat  terminology yang sesungguhnya  seberapa perhatian kita untuk memikirkan dan memenuhi kebutuhan orang lain dengan sumber daya yang kita milki…wallahualam indahnya berbagi

Minggu, 25 September 2011

MENGHADAPI ORANG YANG TERKADANG MENJENGKELKAN

Beberapa persoalan didalam pekerjaan trekadang membutuhkan ketrampilan social yang lebih baik dari orang lain , apalagi bila anda sebagai seorang pimpinan , berikut ada beberapa syaran agar kita bisa atau dapat menghadapi orang yang terkadang sangat menjengkelkan kita :
Terkadang ada orang yang senang sekali mengatakan atau ,membicarakan hal-hal yang tidak berguna justru pada saat ketika kita sedang membicarakan suatu topic yang sangat penting. Oleh karenanya bagaimana sikap kita menghadapai orang semacam itu ? oleh karenanya ketika orang atau mereka melakukan  hal semacam itu sikap  terbaik adalah agar sebaiknya kita memposisikan diri menjadi seorang pendengaryan baik , namun tentu pendengaran kita dilakukan dengan  tidak menghiraukan apa yang dikatakan orang tersebut, pandangan kita tetap tidak berpaling kebelakang dan dengan tidak menunjukkan expresi  jengkel dan marah atau tanpa kesabaran.  Sebab biasanya amarah merupakan refleksi dan  reaksi yang sia-sia. Semua itu akan mengurus  waktu dan energy kebaikan bagi kita , dan menguras segala usaha kita menjadi lebih produktif. Tentu saja sangat penting menjadi seorang pendengar.  Akan tetapi  menjadi penting juga kita menjadi tidak mendengarkan ketika lawan bicara kita hanya banyak bersendau-gurau. Banyaknya hal semacan itu terjadi dalam sebuah hubungan antar manusia , baik dalam sebuah organisasi besar, organisasi keil maupun hubungan keluarga , pertemanan , persahabatan,  atau hubungan kerja , hal demikian terjadi sering terjadi  ketika   menghadapi orang dengan type yang terkadang sangat menjengkelkan tersebut . Terima kasih

Pengusaha


Nah, ternyata pengusaha, eksekutif dan bisnis juga ada kiatnya, dan ini sangat dipercaya oleh banyak pengusaha , sebelum saya mengenal dunia usaha  Kita akan membahas dua kiat yang sangat populer dari banyak mitos diluar sana.

1 - Jadi pengusaha harus “gila”

Pengalaman saya yang selama ini  bersentuhan dengan dunia bisnis, terutama ketika saya menjalani profesi business , pengusaha yang sukses adalah orang-orang yang sangat waras. Mereka tidak gila, ada lima ciri yang meyakinkan saya bahwa mereka tidak gila.
  • 1.       Mereka sangat berpengetahuan, karena rajin ikut seminar dan workshop.
  • 2.     Mereka tidak mudah percaya apa kata orang, mereka membuktikan dengan mempraktekkan segala jenis  yang mereka sudah tahu.
  • 3.      Mereka tidak takut gagal bukan karena “gila”, mereka memahami bahwa tidak ada kesuksesan tanpa proses belajar melalui kesalahan.
  • 4.       Mereka menguasai ilmu komunikasi efektif.
  • 5.      Mereka memahami cara mengelola uang, walau banyak dari mereka yang memulai tanpa uang yang besar.Artinya jadi pengusaha harus 100% waras!

2   Mau sukses harus kerja keras
Pernah dengar istilah, KALAU MAU SUKSES, KAYA HARUS KERJA KERAS ...
Jika anda percaya bahwa sukses terjadi hanya dengan kerja keras, harusnya sudah banyak kuli yang kaya raya, pengamen yang jadi milyader, tukang batu yang sukses.
Kerja keras memang modal utama, tapi sukses datang karena kita memiliki pengetahuan/knowledge dan pengalaman/experience, bukan hanya karena kerja keras saja. Ada hal lain selain kerja keras yaitu tujuan yang jelas. Visi, goal dan arah perusahaan adalah lampu sorot yang akan membuat kerja keras menjadi sebuah kesuksesan.



Kerja keras tanpa tujuan yang jelas adalah mimpi buruk. Suatu saat akan ada momen kebosanan, frustrasi, setelah mendapat apa yang diinginkan ternyata tidak puas.
Arah yang jelas tanpa kerja keras adalah mimpi di siang hari alias mengkhayal.
Kerja keras dengan tujuan yang jelas, mendatangkan sukses dengan kepuasan hati. Semakin jelas tujuan, pikiran tenang, perasaan puas, tindakan semangat, maka semakin mudah kekayaan mendekati Anda.
Kecuali jika ada orang yang tidak mau kerja keras, tidak ada tujuan, ini yang saya sebut “pingsan”. Tidak ada kesadaran, kehilangan kendali kehidupan.
Jangan terhipnotis oleh mitos-mitos yang menghambat produktifitas anda. Jaga jangan sampai karyawan dan team anda juga terjebak dengan mitos-mitos ini. Biarkan mitos ini menjadi panduan Anda, hanya agar Anda memberikan kesempatan kepada otak Anda untuk mempelajari hal-hal baru, kreatifitas baru, filosofi baru dan tentunya membawa Anda kepada tindakan baru. Selamat berjuang

SIFAT MENGHAKIMI.

Menghakimi adalah suatu sikap dan sifat manusia yang cenderung  berfikir negative yang paling umum dari sifat manusia. Ada tiga jenis bentuk menghakimi yang sering kita dengar adalah ;1 menghakimi diri sendiri ;2 menghakimi orang lain dan menghakimi masa lalu. Semua itu adalah suatu sifat yang pada akhirnya akan meracuni sifat2 baik pembawaan setiap manusia.
Menghakimi diri sendiri, apalagi secara terus menerus, apabila  kita mendapati atau membuat suatu kesalahan, yang telah kita lakukan  maka menghakimi diri sendiri itu akan berdampak pada kepribadian kita menjadi rendah diri. Demikian juga apabila kita dengan mudah menghakimi orang lain, apa lagi secara terus menerus ? hal tersebut biasanya  akan melahirkan satu sikap dan sifat selalu membatasi diri bahkan cenderung melakukan penolakan pada orang lain. Hal tersebut akan selalu mengalirkan sikap permusuhan yang akan berakibat sebagai penghalang bagi jalan, untuk membangun hubungan dengan orang lain.
Dan yang ketiga merupakan penggabungan dari kedua sikap dan sifat menghakimi diri sendiri dan orang lain , maka biasanya kita akan dengan mudah menghakimi masa lalu kita atau menghakimi pengalaman2 hidupnya. Dan pada akhrinya kita hanya menikmati sedikit aktifitas pribadi, sampai2 tidak ada hal apapun yang dapat membuat hidup kita mengarah kepada jalan bahagia. Hidup kita terlalu banyak disibukkan dengan penghakiman kita terhadap hidup kita dan penghakiman pada orang lain  disekitar kita … dan pada akhirnya kita selalu menghakimi masa lalu kita. Dan akibat dari sikap itu akan menjadi sebuah genangan ketidak puasan yang mendalam, serta menghanyutkan energy dan semangat kita, srta brdampak pada  penolakan kegembiraan yang mestinya dapat kita nikmati dalam perjalanan hidup kita. Semoga bermanfaat.  

KESALAHAN

Tak ada sorangpun didunia ini yang ingin dengan sengaja untuk berbuat kesalahan. Bahkan tak akan pernah kita jumpai sebuah buku yang menulis tentang cara-cara untuk berbuat kesalahan. Dan tak seorangpun senang setiap ia berbuat kesalahn. Setiap manusia ingin berbuat dengan benar dan lepas dari stiap  kesakahan. Sebab akibat dari sebuah kesalahan semua pekerjaan, atay sdbuah hubungan menjadi berantakan.
Namun bagiman bila seseorang yang telah berbuat salah dan ia tidak menyadari tentang kesalahannya, bahkan tak mengakui akan kesalahannya,dan kecenderungan orang yang beburt salah dan tidak mau menyadari dan mengakui, biasanya akan selalu dan kembali membuat kesalahannya lagi.Tetapi apabila seseorang, kkita ia brbuat salah dan ia dapat menyadari dan mengakui ksalahan yang telah ia perbuat  maka orang lain tentu akan menunjukan kesalahan yang ia lakukan. Dengan demikian dikemudian hari ia dapat mnghindari keslahan berikutnya, dan ia dapat belajar dari kesalahannya. Bagaimana mungkin orang lain akan membantu dari kesalahannya dan memeberikan jalan keluar apabila  dia sendiri tidak  mau menyadari dan mengakui  kesalahanya. Banyak sakali orang yang senang menyembunyikan kesalahnnya, dan tidak mau berterus terang kepada orang lain. Bagaimanapun juga kita mesti belajar untuk mengakui bahwa kita sebagai manusia adalah tergolong pada mahluk yang hidup dalam masyarakat. Ada orang lain yang perlu kita mintai pertolongan.
Sebagai orang yang hidup bermasyarakat dan sebagai mahluk social, memang  kitasangat  mebutuhkan orang lain untuk dapat mmbantu kita  mencapai tujuan yang kita harapkan. Seorang peminpin membutuhkan bawahan untuk mmbantu dalam mncapai tujuannya, seorang suami membutuhkan seorang istri untuk dapat disebut sebuah keluarga, dalam mnggapai kehidupannya. Kita tidak akan dapat memecahkan kesulitan sendiri, kita membutuhkan orang lain untuk mencapai apa yang kita inginkan, dan mencari jalan untuk kluar apabila didalam pjalanannya ditemui masalah2 yang mnhadang.
Banyak orang didalam suatu hubunganbaik dalam sebuah organisasi myarakat, bisnis bahkan keluarga  yang sering ragu2 untuk membicarakan keslahannya kepada atasanya atau pimpinannya, biasanya hal ini didasari oleh rasa takut , dimarahi, dimutasi, atau takut mendapat sangsi. Ksimpulannya menyadari serta menghindari kesalahan dengan segala usaha dan tenaga serta mengenal berbagai jenis,  sebab macam ksalahan sangat diperlukan, namun apabila anda telah dan terlanjur berbuat kesalahan, dan ketika anda telah menyadarinya maka segeralah mengakui, agar orang lain dapat membantu anda keluar dari kesalahan itu. Semoga bermanfaat.